Bhayu Rhama dan Filosofi Mengabdi: Ilmu Bukan Hanya untuk Diri Sendiri

PALANGKA RAYA, INFOKALTENG — Bagi Prof. Bhayu Rhama, S.T., M.B.A., Ph.D., ilmu pengetahuan bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi sebuah tanggung jawab untuk memberi manfaat bagi orang lain. Filosofi itulah yang menjadi bagian dari perjalanan panjangnya sebagai akademisi, praktisi pariwisata, hingga pemimpin di Universitas Palangka Raya (UPR).
Perjalanan Bhayu hingga mencapai posisi Guru Besar Ilmu Pariwisata tidak lahir secara instan. Ada proses panjang yang dilalui, mulai dari pendidikan, pengalaman profesional, hingga keterlibatan langsung dalam membangun sektor pariwisata di Kalimantan Tengah.
Saat ini, Bhayu dipercaya menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UPR periode 2023–2027. Sebelumnya, ia menempuh berbagai jenjang pendidikan dan pengalaman yang membentuk cara pandangnya tentang arti pengabdian.
Bhayu mengawali perjalanan hidupnya dari Jombang, Jawa Timur, sebelum tumbuh besar di Palangka Raya. Pendidikan dasar hingga menengah ia jalani di Kota Palangka Raya, kemudian melanjutkan pendidikan ke Solo dan Yogyakarta.
Pendidikan akademiknya membawa Bhayu meraih gelar sarjana teknik sipil dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta pada 2001. Namun, ketertarikannya terhadap dunia pariwisata membuatnya memilih mendalami bidang tersebut melalui pendidikan lanjutan di luar negeri.
Ia mendapatkan beasiswa untuk menempuh studi magister manajemen pariwisata di University of Wolverhampton, Inggris, pada 2002–2004. Kemudian melanjutkan studi doktoral di University of Central Lancashire, Inggris, dengan fokus kebijakan pariwisata dan ekowisata pada taman nasional pada 2013–2017.
Bagi Bhayu, perjalanan akademik bukan hanya tentang mendapatkan gelar, tetapi bagaimana ilmu yang diperoleh dapat diterapkan dan memberikan dampak nyata.
“Saya selalu percaya bahwa ilmu harus terus berkembang dan memberi manfaat bagi banyak orang. Tantangan demi tantangan datang, namun setiap rintangan adalah batu loncatan untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi,” ujar Bhayu.
Kecintaan terhadap pariwisata juga ia wujudkan melalui pengalaman sebagai praktisi. Pada 2004, ia mendirikan usaha perjalanan wisata Barama Tour & Travel. Aktivitas tersebut membuatnya semakin memahami bahwa pariwisata memiliki peran besar dalam menciptakan pengalaman, menjaga budaya, dan membuka peluang ekonomi masyarakat.
Selain menjadi akademisi, Bhayu juga aktif dalam organisasi pariwisata. Ia pernah dipercaya sebagai pengurus Badan Promosi Pariwisata Daerah Kota Palangka Raya sejak 2017, Ketua ASITA Kalimantan Tengah periode 2018–2023, serta terlibat dalam berbagai organisasi kebudayaan dan pariwisata.
Menurut Bhayu, pariwisata tidak hanya berbicara tentang tempat yang dikunjungi, tetapi tentang manusia dan manfaat yang dapat dihasilkan.
“Pariwisata bukan hanya tentang perjalanan, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa menciptakan pengalaman, melestarikan budaya, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Kembali ke Palangka Raya pada 2010 sebagai dosen tetap UPR menjadi langkah penting dalam pengabdiannya. Dari ruang kelas, penelitian, hingga posisi kepemimpinan di fakultas, Bhayu terus membawa gagasan bahwa pendidikan harus mampu memberi perubahan.
Prinsip hidup tersebut ia rangkum dalam filosofi yang selalu ia pegang, yakni “Non nobis solum nati sumus” yang berarti manusia tidak dilahirkan hanya untuk dirinya sendiri.
Bagi Bhayu, keberhasilan bukan hanya diukur dari seberapa tinggi posisi yang diraih, tetapi seberapa besar kontribusi yang diberikan kepada lingkungan sekitar.
“Jangan pernah ragu dengan mimpi besar. Sebab, impian yang diperjuangkan dengan tekad dan kerja keras akan menemukan jalannya sendiri,” pesan Bhayu.
Dengan pengalaman sebagai akademisi, praktisi, dan penggerak pariwisata, Bhayu ingin terus mendorong pendidikan dan inovasi sebagai jalan membangun masa depan UPR serta Kalimantan Tengah.

Bagikan ke