Peserta Pesparawi Kalteng Curhat di Medsos, Tak Dapat Uang Saku dan Kurang Pendampingan

PALANGKA RAYA, INFOKALTENG – Sejumlah peserta kontingen Kalimantan Tengah pada ajang Pesparawi Nasional meluapkan kekecewaan mereka melalui media sosial. Berbagai keluhan disampaikan, mulai dari perjalanan panjang yang dinilai menguras fisik, minimnya fasilitas, tidak adanya uang saku, hingga dugaan kurangnya pendampingan dari Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah (LPPD) Provinsi Kalimantan Tengah selama mengikuti perlombaan di Manokwari, Papua Barat.

Keluhan tersebut ramai diperbincangkan setelah sejumlah peserta mengunggah pengalaman mereka melalui status WhatsApp dan Instagram. Unggahan itu memicu beragam tanggapan dari masyarakat yang mempertanyakan pengelolaan kontingen Kalimantan Tengah selama mengikuti ajang nasional tersebut.

Dalam unggahan yang beredar, peserta menceritakan perjalanan panjang yang harus ditempuh menuju Manokwari. Mereka berangkat menggunakan bus dari Palangka Raya menuju Batulicin, kemudian melanjutkan perjalanan dengan kapal laut menuju Makassar sebelum diterbangkan ke Manokwari. Setibanya di lokasi, peserta disebut langsung mengikuti uji coba panggung tanpa memiliki waktu yang cukup untuk memulihkan kondisi fisik setelah perjalanan panjang.

Peserta juga mengeluhkan kondisi transportasi dan akomodasi yang dinilai kurang memadai. Mereka menyebut harus menggunakan kapal laut kelas ekonomi dalam perjalanan yang berlangsung sekitar 30 jam, sementara kondisi penginapan yang disediakan juga dinilai tidak layak.

Selain itu, peserta menyoroti adanya perbedaan fasilitas antara kontingen dan jajaran official. Dalam unggahan yang beredar, disebutkan bahwa sebagian official menggunakan transportasi udara menuju Manokwari, sedangkan peserta harus menempuh perjalanan laut yang jauh lebih panjang sebelum melanjutkan penerbangan ke lokasi kegiatan.

Keluhan lain yang banyak disampaikan berkaitan dengan tidak adanya uang saku bagi peserta selama mengikuti kegiatan. Bahkan, beberapa peserta mengaku harus mengatur sendiri biaya dan moda transportasi untuk perjalanan pulang setelah seluruh rangkaian perlombaan selesai.

Minimnya pendampingan dari official juga menjadi sorotan. Sejumlah peserta mengaku tidak mendapatkan bantuan yang memadai selama pelaksanaan lomba. Mereka menilai keberadaan official belum sepenuhnya memberikan dukungan terhadap kebutuhan peserta selama berada di lokasi kegiatan.

Tidak hanya itu, peserta juga menyampaikan kekecewaan terhadap publikasi hasil perlombaan yang dinilai lebih banyak menampilkan pengurus dibandingkan para peserta yang tampil di panggung dan berhasil meraih prestasi. Mereka berharap penghargaan lebih diberikan kepada anggota kontingen yang telah menjalani proses latihan dan mewakili Kalimantan Tengah di tingkat nasional.

Dalam unggahan lain juga muncul sorotan mengenai bantuan sebesar Rp250 juta dari Gubernur Kalimantan Tengah yang disebut diperuntukkan bagi peserta Pesparawi. Sejumlah warganet mempertanyakan realisasi dan pemanfaatan bantuan tersebut, sekaligus meminta adanya penjelasan secara terbuka dari pihak LPPD mengenai pengelolaan anggaran dan pelayanan terhadap kontingen.

Hingga berita ini ditulis, LPPD Provinsi Kalimantan Tengah belum memberikan keterangan resmi terkait berbagai keluhan yang beredar di media sosial. Redaksi masih berupaya menghubungi pihak LPPD untuk memperoleh konfirmasi dan klarifikasi. Seluruh informasi dalam berita ini merupakan rangkuman keluhan yang disampaikan peserta melalui media sosial dan masih menunggu tanggapan resmi dari pihak terkait sesuai prinsip keberimbangan dalam pemberitaan.

Bagikan ke