My Little Bolu Ketan Viral, Psikiater Ungkap Dampak Lagu yang Terus Terngiang di Kepala

PALANGKA RAYA, INFOKALTENG — Fenomena lagu viral “My Little Bolu Ketan” tengah ramai diperbincangkan di media sosial. Potongan lagu yang banyak beredar di Instagram dan TikTok itu tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga membuat banyak orang terus mengingat dan tanpa sadar menyenandungkannya berulang kali.

Lagu yang turut menyebut nama Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, tersebut kini populer di berbagai kalangan, mulai dari orang dewasa, remaja, hingga anak-anak.

Psikiater dari Rumah Sakit Marzoeki Mahdi, Lahargo Kembaren, menjelaskan bahwa kondisi ketika sebuah lagu terus muncul di pikiran tanpa disengaja dikenal sebagai earworm atau Involuntary Musical Imagery (IMI).

Menurutnya, fenomena tersebut merupakan hal yang normal dan umum dialami banyak orang, terutama di era media sosial yang memungkinkan suatu konten muncul berulang kali dalam waktu singkat.

“Lagu viral itu seperti tamu yang awalnya cuma mampir, tapi karena sering dibukakan pintu oleh algoritma, akhirnya betah tinggal di kepala,” ujar Lahargo dalam keterangannya, Minggu (31/5/2026).

Ia menjelaskan, lagu-lagu viral biasanya memiliki karakteristik sederhana, mudah diingat, repetitif, dan mampu memunculkan respons emosional tertentu. Ditambah paparan yang terus-menerus melalui media sosial, lagu tersebut menjadi lebih mudah menempel dalam ingatan.

Meski sering dianggap mengganggu, Lahargo menegaskan bahwa dalam jangka pendek fenomena earworm umumnya tidak berbahaya bagi kesehatan mental.

“Jangka pendek umumnya tidak berbahaya. Bahkan pada sebagian orang dapat meningkatkan suasana hati, menimbulkan rasa senang, menjadi hiburan ringan, dan memunculkan rasa kebersamaan karena mengikuti tren yang sama,” jelasnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa pada individu yang sedang mengalami stres, kecemasan, atau kesulitan berkonsentrasi, lagu yang terus terngiang bisa menjadi sumber gangguan karena mengurangi fokus dan produktivitas.

Selain itu, kondisi tersebut juga berpotensi mengganggu kualitas istirahat apabila terus muncul saat seseorang hendak tidur.

Kendati demikian, hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa lagu viral dapat menyebabkan gangguan mental jangka panjang pada individu yang sehat.

Menurut Lahargo, hal yang lebih perlu mendapat perhatian justru adalah pola konsumsi media sosial yang berlebihan. Paparan konten secara terus-menerus dinilai dapat menurunkan rentang perhatian dan membuat otak terbiasa mencari stimulasi instan.

“Yang lebih perlu diperhatikan adalah pola konsumsi media sosial yang berlebihan, karena dapat meningkatkan distraksi, menurunkan rentang perhatian (attention span), dan membuat otak terbiasa mencari stimulasi cepat,” ungkapnya.

Untuk mengatasi earworm yang dirasa mengganggu, Lahargo menyarankan beberapa langkah sederhana, seperti mendengarkan lagu tersebut hingga selesai, melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi seperti membaca atau mengisi teka-teki silang, serta membatasi waktu berselancar di media sosial.

Dengan pengelolaan yang tepat, fenomena viral seperti “My Little Bolu Ketan” dapat tetap dinikmati sebagai hiburan tanpa mengganggu kesehatan psikologis maupun produktivitas sehari-hari.

Bagikan ke