PALANGKA RAYA, INFOKALTENG — Sebanyak 135 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat bencana asap karhutla tercatat di Kota Palangka Raya hingga 1 September 2026. Data tersebut tercantum dalam rilis harian Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya dan menjadi indikator yang terus dipantau seiring meningkatnya paparan kabut asap.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya, Riduan, mengatakan kasus ISPA paling banyak tercatat di wilayah kerja Puskesmas Menteng dengan 26 kasus. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan puskesmas lainnya di Kota Palangka Raya.
Selanjutnya, Puskesmas Bukit Tunggal dan Puskesmas Pahandut masing-masing mencatat 23 kasus. Puskesmas Bukit Hindu menyusul dengan 20 kasus, kemudian Marina Permai sebanyak 14 kasus.
Sementara itu, Puskesmas Jekan Raya dan Puskesmas Kalampangan masing-masing mencatat 10 kasus. Puskesmas Kereng Bangkirai mencatat delapan kasus, sedangkan Puskesmas Panarung mencatat satu kasus ISPA akibat bencana asap karhutla.
Riduan mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan kabut asap, terutama dengan mengurangi aktivitas di luar rumah ketika tidak ada kepentingan mendesak. Masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah juga diminta menggunakan masker.
“Karena adanya peningkatan kabut asap, saya mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama apabila tidak memiliki kepentingan yang mendesak. Kalaupun harus keluar rumah harus pakai masker,” jelas Riduan, Rabu (2/9/2026).
Selain imbauan, Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya menyiapkan ruang oksigen di 11 puskesmas yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara gratis. Fasilitas tersebut disiapkan untuk membantu warga yang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap karhutla.
Dari 11 puskesmas yang menyediakan ruang oksigen tersebut, empat di antaranya memberikan pelayanan selama 24 jam. Langkah tersebut diharapkan mempercepat penanganan masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan ketika kualitas udara memburuk.
Dinkes juga menggandeng Ikatan Bidan Indonesia (IBI) agar bidan praktik dapat turut membuka layanan oksigen bagi masyarakat. Dengan melibatkan fasilitas kesehatan dan tenaga medis di tingkat masyarakat, akses terhadap penanganan gangguan pernapasan diharapkan semakin luas.
“Upaya tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap bencana kabut asap karhutla. Kita ingin masyarakat yang terkena dampak kabut asap dapat tertangani dengan cepat dan baik,” ungkap Riduan.
Bagikan ke
