Sampah Roket China Masuk Atmosfer Dentuman Terdengar dari Jawa hingga Kalimantan

JAKARTA, INFOKALTENG – Sampah antariksa dari roket China Zhuque-2E yang kembali memasuki atmosfer Bumi diduga menjadi penyebab kemunculan objek bercahaya di langit serta laporan suara dentuman keras di sejumlah wilayah Indonesia, Minggu (18/10/2026). Lintasan objek tersebut dilaporkan melewati wilayah Pulau Jawa hingga Kalimantan.

Objek bercahaya itu terlihat melintas di langit dengan jejak warna merah, biru, dan hijau. Fenomena tersebut menarik perhatian warga yang merekam kemunculannya sebelum objek menghilang dari pandangan.

Di Brunei Darussalam, objek tersebut teramati sekitar pukul 17.30 hingga 17.33 WIB. Sejumlah warga melaporkan bahwa cahaya di langit itu terlihat selama sekitar 20 hingga 30 detik.

Berdasarkan informasi dalam analisis International Astronomical Center (IAC) dan data pelacakan orbit, objek tersebut diidentifikasi sebagai tahap kedua roket Zhuque-2E milik China yang kembali memasuki atmosfer Bumi.

Roket Zhuque-2E diluncurkan pada 14 Oktober 2026 dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan, China. Misi peluncuran tersebut membawa 10 satelit ke orbit. Setelah menjalankan tugasnya, tahap kedua roket masih berada di orbit sebelum akhirnya kembali memasuki atmosfer pada 18 Oktober.

Tahap kedua roket itu diperkirakan memiliki massa sekitar lima ton. Ketika memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi, struktur roket mengalami pemanasan ekstrem akibat gesekan dan kompresi udara, sehingga dapat menghasilkan cahaya terang.

Dalam proses tersebut, badan roket berpotensi pecah menjadi sejumlah bagian. Sebagian material akan terbakar selama melintasi atmosfer, sedangkan bagian yang lebih tahan panas berpotensi mencapai permukaan Bumi.

Lintasan masuknya kembali objek tersebut diperkirakan melewati wilayah Indonesia, dari Pulau Jawa hingga Kalimantan. Fenomena ini menjadi salah satu penjelasan yang perlu diperhatikan untuk memahami laporan kemunculan cahaya dan dentuman yang terdengar di sejumlah daerah.

Meski demikian, suara dentuman yang dilaporkan warga tidak serta-merta dapat dipastikan seluruhnya berasal dari debris roket tersebut tanpa verifikasi berdasarkan lokasi, waktu kejadian, dan data pengamatan yang relevan.

Fenomena masuknya kembali sampah antariksa ke atmosfer merupakan bagian dari risiko yang menyertai aktivitas peluncuran roket dan satelit. Untuk memastikan dampak kejadian pada 18 Oktober 2026, diperlukan keterangan resmi dari lembaga terkait mengenai lintasan objek, kemungkinan jatuhnya material, serta ada atau tidaknya dampak terhadap wilayah berpenduduk.

Bagikan ke