Prof. Bhayu Rhama Pilih Diam Hadapi Polemik Pilrek UPR, Fokus Bangun Masa Depan Kampus

PALANGKA RAYA, INFOKALTENG – Di tengah memanasnya dinamika Pemilihan Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) periode 2026–2030, Calon Rektor UPR Prof. Bhayu Rhama, S.T., M.B.A., Ph.D. memilih tidak larut dalam polemik yang berkembang. Alih-alih membalas berbagai tudingan dan narasi negatif yang beredar, ia tetap menjalankan aktivitas akademik serta tugasnya sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UPR.

Menurut Prof. Bhayu, kontestasi rektor seharusnya menjadi ruang adu gagasan dan program, bukan ajang saling menyerang yang berpotensi memecah persaudaraan di lingkungan kampus. Ia menilai seluruh energi civitas akademika lebih baik diarahkan untuk memikirkan kemajuan universitas.

“Ketika banyak energi habis untuk saling menyerang, saya memilih menggunakan energi itu untuk berpikir bagaimana UPR bisa lebih maju dan lebih bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Prof. Bhayu.

Dalam beberapa pekan terakhir, berbagai isu dan narasi negatif yang beredar di media sosial maupun grup percakapan kampus kerap mengaitkan namanya. Meski demikian, Prof. Bhayu mengaku tidak ingin merespons dengan cara yang sama karena meyakini bahwa karya, rekam jejak, dan pengabdian akan berbicara lebih kuat dibanding opini yang dibangun sesaat.

Sikap tersebut juga dinilai sejumlah kolega akademisi sebagai bentuk kedewasaan dalam berdemokrasi di lingkungan perguruan tinggi. Mereka berpandangan bahwa pemilihan rektor idealnya menjadi momentum untuk memperdebatkan visi, program, dan solusi bagi kemajuan universitas, bukan memperuncing perbedaan personal.

Bagi Prof. Bhayu, jabatan rektor bukan sekadar posisi yang harus diraih dengan segala cara. Lebih dari itu, pemilihan rektor merupakan proses menentukan arah pengembangan UPR sebagai perguruan tinggi kebanggaan masyarakat Kalimantan Tengah.

“Saya tidak ingin pemilihan ini meninggalkan perpecahan. Setelah proses ini selesai, kita semua tetap keluarga besar UPR. Kita tetap bertemu di kampus yang sama, bekerja untuk tujuan yang sama,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa tantangan pendidikan tinggi ke depan jauh lebih besar dibanding dinamika kontestasi yang sedang berlangsung. Peningkatan kualitas lulusan, penguatan riset, inovasi, internasionalisasi, hingga kontribusi nyata terhadap pembangunan daerah membutuhkan kolaborasi seluruh unsur di lingkungan universitas.

Karena itu, Prof. Bhayu mengajak seluruh civitas akademika menjadikan proses pemilihan rektor sebagai contoh demokrasi akademik yang bermartabat, dengan mengedepankan etika, penghormatan, dan semangat kebersamaan.

“Saya berharap proses ini berjalan damai, sejuk, dan penuh penghormatan satu sama lain. Siapa pun yang nantinya terpilih, tujuan kita tetap sama, yaitu menjadikan UPR semakin unggul dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi Kalimantan Tengah dan Indonesia,” tuturnya.

Di tengah derasnya berbagai isu yang bermunculan, Prof. Bhayu memilih tetap fokus bekerja dan menjaga suasana akademik tetap kondusif. Baginya, jabatan dapat berganti, tetapi persaudaraan di lingkungan kampus dan masa depan Universitas Palangka Raya harus tetap menjadi prioritas utama.

Bagikan ke