PALANGKA RAYA, INFOKALTENG – Bakal Calon Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) periode 2026–2030, Prof Bhayu Rhama ST MBA PhD, mengusung agenda transformasi digital dan modernisasi kampus sebagai salah satu program prioritas apabila dipercaya memimpin UPR. Melalui konsep Smart University, ia menargetkan terwujudnya layanan akademik yang terintegrasi, efisien, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Prof Bhayu menjelaskan, transformasi digital menjadi kebutuhan mendesak bagi perguruan tinggi agar mampu meningkatkan kualitas layanan kepada mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta memperkuat tata kelola universitas berbasis data.
“Transformasi digital bukan sekadar mengubah sistem manual menjadi digital, tetapi membangun ekosistem kampus yang terintegrasi sehingga seluruh layanan menjadi lebih cepat, transparan, dan akuntabel,” ujarnya.
Dalam bidang digitalisasi, Prof Bhayu menyiapkan sejumlah program strategis. Di antaranya pembangunan Sistem Pelaporan Kinerja Terintegrasi, pengembangan Single Data Platform sebagai pusat data universitas, serta penyediaan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) Digital yang terintegrasi dengan layanan e-money.
Selain itu, seluruh mahasiswa juga direncanakan memperoleh email kampus resmi, didukung pengembangan Perpustakaan Digital, penyempurnaan Learning Management System (LMS), serta integrasi Sistem Informasi Akademik (SIAKAD) agar seluruh layanan akademik dapat diakses secara lebih mudah melalui satu ekosistem digital.
“Kami ingin seluruh civitas akademika memperoleh kemudahan dalam mengakses layanan kampus melalui sistem yang saling terhubung. Data yang terintegrasi akan menjadi dasar pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat,” katanya.
Tak hanya berfokus pada digitalisasi, Prof Bhayu juga menempatkan modernisasi sarana kampus sebagai bagian penting dalam mewujudkan Smart University. Sejumlah fasilitas yang menjadi perhatian antara lain mengaktifkan kembali Ruang Senat Universitas agar lebih fungsional, menyediakan Ruang Guru Besar dan Ruang Emeritus, membangun Student Co-Working Space, serta melakukan renovasi bertahap terhadap Perpustakaan Universitas.
Menurutnya, penyediaan ruang-ruang kolaboratif akan mendorong terciptanya budaya akademik yang lebih produktif dan inovatif, sekaligus memperkuat interaksi antara mahasiswa, dosen, dan peneliti.
“Kampus masa depan harus mampu menyediakan ruang belajar yang nyaman, kolaboratif, dan didukung teknologi digital. Dengan begitu, mahasiswa dapat berkembang tidak hanya secara akademik, tetapi juga dalam inovasi dan kreativitas,” ungkapnya.
Prof Bhayu menambahkan, konsep Smart University yang diusung bukan hanya berorientasi pada penggunaan teknologi, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas tata kelola universitas, pelayanan publik, serta daya saing UPR di tingkat nasional maupun internasional.
“Target kami adalah menghadirkan UPR yang modern, adaptif, berbasis data, dan mampu memberikan layanan terbaik bagi seluruh sivitas akademika. Transformasi digital dan modernisasi kampus menjadi fondasi penting untuk mencapai visi tersebut,” tutupnya.
Bagikan ke
