Akses Sulit dan Air Terbatas, Satgas Hadapi Kendala Tangani Karhutla

PALANGKA RAYA, INFOKALTENG – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah masih menghadapi berbagai kendala. Kondisi lahan gambut, akses menuju lokasi yang sulit, vegetasi yang kering, hingga keterbatasan sumber air menjadi tantangan bagi Satuan Tugas Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Dalkarhutla) dalam mengendalikan api.

Kepala Pelaksana BPBPK Provinsi Kalimantan Tengah, Ahmad Toyib, mengatakan kondisi tersebut membutuhkan penanganan yang tidak hanya cepat, tetapi juga dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan.

Menurutnya, sebagian lokasi Karhutla berada di lahan gambut yang memiliki karakteristik khusus. Api yang terlihat di permukaan belum tentu menandakan kebakaran telah sepenuhnya padam karena bara dapat bertahan di bawah permukaan.

“Penanganan Karhutla tidak cukup hanya memadamkan api yang terlihat. Pembasahan, pendinginan, dan penyekatan harus dilakukan untuk memastikan tidak ada bara atau titik panas yang kembali memicu kebakaran,” tegas Ahmad Toyib.

Keterbatasan sumber air juga menjadi persoalan dalam operasi pemadaman. Tim di lapangan harus memanfaatkan sumber air yang tersedia, seperti embung dan sumur bor, kemudian mengalirkannya ke peralatan pemadaman untuk menjangkau lokasi kebakaran.

Di Jalan Tanjung Taruna, Kabupaten Pulang Pisau, misalnya, Regu Damkar 1 BPBPK bersama unsur TNI memanfaatkan air dari embung yang dialirkan ke flexi tank. Upaya tersebut digunakan untuk pemadaman dan pembasahan lahan gambut yang terbakar.

Selain persoalan air, akses menuju titik kebakaran juga menjadi tantangan tersendiri. Kondisi medan dan karakteristik lahan gambut membuat mobilisasi personel maupun peralatan pemadaman tidak selalu mudah dilakukan.

Karena itu, setelah kepala api berhasil dikendalikan, personel tidak langsung meninggalkan lokasi. Penyekatan, pembasahan dan pendinginan tetap dilakukan untuk memastikan bara di dalam tanah tidak kembali menjadi titik api.

Kondisi serupa terjadi di kawasan Tumbang Nusa. Regu Damkar II BPBPK bersama Tim Basarnas melakukan pemadaman pada lahan gambut dengan vegetasi semak belukar dan pakis menggunakan sumber air dari sumur bor.

Tim berhasil melakukan pemadaman sejauh kurang lebih 70 meter. Namun, masih terdapat bagian api yang belum sepenuhnya padam sehingga penanganan akan dilanjutkan pada hari berikutnya.

Di sekitar embung depan Balai Persemaian Bibit Tumbang Nusa, personel BPBPK bersama TNI juga melakukan pemadaman dan pembasahan pada lahan sekitar satu hektare. Upaya tersebut dilakukan untuk mencegah api merambat hingga ke jalan raya.

Besarnya tantangan tersebut membuat penanganan Karhutla membutuhkan keterlibatan banyak unsur. TNI, Polri, Basarnas, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), BPK, relawan, pemerintah daerah, dunia usaha dan unsur lainnya terus dilibatkan dalam operasi di lapangan.

Dalam operasi tersebut, Satgas Udara dikerahkan sebanyak empat regu, sedangkan Satgas Darat sebanyak 16 regu. Sebanyak 10 regu diarahkan ke wilayah Tumbang Nusa, satu regu ke Kameloh Baru, satu regu ke Kalampangan, dan empat regu ditempatkan di Pos Komando.

Khusus operasi gabungan di Tumbang Nusa, sebanyak 32 regu Satgas Darat turut dikerahkan untuk memperkuat pemadaman dan penanganan lanjutan.

Sementara itu, berdasarkan pembaruan data BMKG melalui Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya, terdeteksi 593 titik panas di Kalimantan Tengah berdasarkan pemantauan satelit pada 7 Agustus 2026.

Sebaran hotspot terbanyak berada di Kabupaten Kotawaringin Timur sebanyak 149 titik, Kapuas 78 titik, Palangka Raya 59 titik, Pulang Pisau 57 titik, Seruyan 54 titik dan Sukamara 53 titik.

BMKG juga mengingatkan kondisi bahan bakar permukaan di sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah pada periode 8–15 Agustus 2026 sangat kering dan mudah terbakar. Potensi curah hujan diperkirakan masih minim.

Ahmad Toyib mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun. Kondisi kering dapat membuat api lebih cepat menyebar dan memperbesar risiko Karhutla.

“Sinergi semua pihak sangat diperlukan, termasuk peran masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan serta segera melaporkan apabila menemukan titik api,” ujarnya.

Satgas Dalkarhutla memastikan penanganan akan terus dilakukan melalui pemadaman, pembasahan, pendinginan, penyekatan, patroli dan pemantauan titik rawan. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah api kembali muncul dan meluas ke kawasan lainnya.

Bagikan ke