PALANGKA RAYA, INFOKALTENG – Staf Ahli Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Fahrizal Fitri memberikan klarifikasi terkait rekaman percakapannya dengan Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Irawati yang beredar luas. Fahrizal membantah Irawati pernah meminta agar Kemenhut mengagendakan pertemuan dengan relawan maupun jamuan makan malam saat kunjungan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni ke Sampit.
Fahrizal menyayangkan beredarnya rekaman tersebut karena menurutnya percakapan itu bersifat pribadi. Ia menilai penyebaran percakapan tersebut sebagai tindakan yang tidak etis.
“Saya menyayangkan dan merasa kecewa karena percakapan yang beredar tersebut merupakan percakapan pribadi. Itu satu hal yang sangat tidak etis,” ujar Fahrizal dalam klarifikasinya.
Ia menjelaskan, selama kunjungan Menteri Kehutanan ke Sampit, Irawati tidak pernah meminta dirinya maupun pihak kementerian untuk mengatur pertemuan dengan relawan atau mengadakan jamuan makan malam seperti yang dibicarakan dalam rekaman.
“Dalam kunjungan Pak Menteri Kehutanan ke Sampit, Ibu Wabup tidak pernah meminta kepada saya maupun pihak Kementerian Kehutanan untuk mengagendakan pertemuan dengan relawan ataupun undangan makan malam, seperti yang dibicarakan dalam rekaman tersebut,” katanya.
Fahrizal menyebut Menteri Kehutanan harus langsung berangkat ke Pangkalan Bun untuk mengikuti rapat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting. Meski demikian, ia menyatakan Raja Juli Antoni tetap akan melakukan kunjungan ke Sampit pada kesempatan berikutnya.
Sebelumnya, Irawati mengungkapkan kekecewaannya karena Menteri Kehutanan tidak sempat menemui pemerintah daerah, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), relawan, dan masyarakat saat berkunjung ke Sampit untuk meninjau karhutla.
Kekecewaan tersebut disampaikan Irawati dalam percakapannya dengan Fahrizal. Ia menekankan bahwa relawan dan masyarakat yang berjibaku memadamkan api membutuhkan perhatian serta dukungan dari pemerintah pusat.
“Kami tidak apa-apa tidak ditemui, tetapi relawan dan masyarakat kami perlu diperhatikan. Tiga orang meninggal, relawan kami, Pak,” ungkap Irawati dalam percakapan tersebut.
Irawati sebelumnya menyebut dirinya bersama Forkopimda dan relawan telah menunggu rombongan di kawasan Jalan Jaksa, Sampit. Mereka bahkan menyiapkan jamuan makan di Rumah Makan Phoenix dengan harapan dapat bertemu dan menyampaikan langsung kondisi karhutla yang semakin memprihatinkan.
Namun, menurut Irawati, rombongan Menteri Kehutanan tidak singgah di lokasi tersebut dan berpindah ke kawasan Jelawat. Ia menegaskan bahwa persoalan utama bukan dirinya atau Forkopimda yang tidak ditemui, melainkan kondisi relawan dan masyarakat yang menghadapi risiko saat melakukan pemadaman.
“Kami juga manusia yang perlu diperhatikan. Kami perlu bantuan, karena memang sudah tidak bisa lagi. Kami sudah mengorbankan relawan kami, sementara api terus meluas,” tegasnya.
Irawati juga menggambarkan beratnya penanganan karhutla di lapangan. Ia menyebut pemerintah daerah bersama tim gabungan masih berjibaku memadamkan api hingga pukul 02.00 WIB dini hari.
“Tadi malam kami sampai pukul 02.00 WIB masih berjibaku dengan api, Pak. Kami benar-benar capek mengurus ini. Tetapi mau bagaimana lagi, ini demi masyarakat,” tuturnya.
Dalam percakapan sebelumnya, Fahrizal mengatakan tidak mengetahui adanya Forkopimda yang menunggu rombongan di Jalan Jaksa. Ia mengaku tidak memperoleh informasi mengenai hal tersebut dan berjanji menyampaikan keluhan Irawati kepada Menteri Kehutanan.
Polemik ini muncul di tengah upaya penanganan karhutla di Kotim yang masih membutuhkan dukungan berbagai pihak. Irawati berharap pemerintah pusat memberikan bantuan konkret untuk mendukung pemadaman dan melindungi relawan serta masyarakat yang menghadapi risiko di lapangan.
Bagikan ke
