JAKARTA, INFOKALTENG – Pengeras suara masjid atau toa yang selama ini digunakan untuk mengumandangkan azan berpotensi menjadi bagian dari sistem peringatan dini gempa bumi di Indonesia. Para ilmuwan tengah menguji pemanfaatan fasilitas tersebut untuk menyampaikan peringatan kepada masyarakat beberapa detik sebelum guncangan kuat terjadi.
Proyek percontohan yang melibatkan peneliti Jepang dan Indonesia itu dirancang berlangsung selama lima tahun hingga 2030. Sistem ini memanfaatkan jaringan masjid yang tersebar hingga pelosok desa untuk membantu menjangkau warga di wilayah rawan gempa.
Ketua proyek, Dr. Inoue Hiroshi dari Lembaga Penelitian Pencegahan Bencana Universitas Kyoto, Jepang, mengatakan keberadaan masjid di banyak permukiman Indonesia menjadi peluang untuk memperluas jangkauan peringatan bencana.
“Hampir setiap pemukiman di Indonesia memiliki masjid,” ujar Inoue, sebagaimana dilaporkan The Guardian, dikutip Selasa (13/10/2026).
Gagasan tersebut muncul setelah Inoue meneliti dampak gempa besar di Sumatra pada 2009 yang menewaskan lebih dari 1.000 orang. Menurutnya, peringatan beberapa detik sebelum guncangan kuat tiba dapat memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menyelamatkan diri.
Pemanfaatan toa masjid dinilai praktis karena tidak sepenuhnya bergantung pada pembangunan infrastruktur baru. Selain jumlahnya banyak, perangkat tersebut umumnya dirawat secara mandiri oleh masyarakat sehingga berpotensi mendukung keberlanjutan sistem peringatan.
“Dalam infrastruktur kebencanaan, tantangan terbesarnya ada pada pemeliharaan. Namun, pengeras suara masjid selalu terawat karena dijaga langsung oleh warga,” kata Inoue.
Peneliti Senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Andi Eka Sakya, menilai inisiatif ini berpotensi menjadi terobosan dalam penyebaran peringatan dini gempa. Sebab, gelombang gempa merambat dengan cepat sehingga waktu untuk merespons sangat terbatas.
Sebagai gambaran, masyarakat di desa yang berjarak sekitar 50 kilometer dari pusat gempa dapat memiliki waktu sekitar 5–10 detik untuk merespons, bergantung pada kondisi gempa dan perambatan gelombangnya. Dalam situasi seperti ini, kecepatan penyampaian informasi menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko korban jiwa.
Meski demikian, sistem tersebut masih berupa prototipe dan belum diterapkan secara luas. Pengembangannya tidak hanya bergantung pada pengeras suara, tetapi juga pada kemampuan mendeteksi gempa, kecepatan pengiriman sinyal, keandalan perangkat, dan kesiapan masyarakat memahami tanda peringatan.
Selain mengembangkan sistem alarm, para peneliti juga mengkaji panduan penyelamatan diri yang sesuai dengan kondisi bangunan di Indonesia. Rumah dengan konstruksi yang tidak memadai dapat berisiko roboh saat terjadi guncangan kuat, sehingga tindakan penyelamatan harus mempertimbangkan kondisi bangunan dan jalur keluar yang aman.
Pemanfaatan tempat ibadah untuk peringatan bencana juga mulai dilirik negara lain. Uni Emirat Arab menyiapkan pengeras suara masjid sebagai bagian dari sistem peringatan jika terjadi kebocoran radiasi nuklir. Sementara itu, Uzbekistan bersama Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) menjalankan proyek percontohan di 272 masjid untuk menyampaikan peringatan ancaman banjir bandang, tanah longsor, dan longsoran salju.
Jika pengujian di Indonesia berhasil, toa masjid dapat memiliki fungsi tambahan sebagai jaringan penyebaran informasi darurat hingga ke wilayah terpencil. Proyek yang ditargetkan berlangsung hingga 2030 ini diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi gempa bumi.
Bagikan ke
